Gila

Aku benar-benar gila.
14 tahun hidup di dunia dan baru kali ini aku sadari bahwa aku gila.

G I L A.

Crazy, weird, abnormal, abstract. Et cetera.

Satu kata yang memiliki berbagai sinonim, yang kurang lebih mempunyai arti “tidak jelas”. Gila ini, sama kayak sinting gak?

Beda.

Aku tidak bisa dibilang sinting, aku tidak akan rela. Berlari keliling lapangan telanjang, ataukah memilih untuk memanjat pohon dan berteriak dengan bahasa yang manusia- bahkan alien tidak dapat memahami.
Ya, itu sinting namanya.

Tidak, itu bukan manusia namanya.

Intinya, aku gila, tetapi masih bisa dikatakan normal. Gila dalam hal cinta, tentunya.

✩✩✩

Baru saja aku menatap matanya, hatiku langsung mengatakan,

“He’s the one.”

Cara dia berjalan menuju kelasnya membuatku terpesona. Jari-jarinya yang menyusuri rambutnya yang berkilau, helai demi helai jatuh dengan indah. Manisnya wajah dia dilengkapi oleh kacamata nerd berwarna hitam.
Hatiku berdegup kencang.

Jaket hijau lumut yang sering ia pakai membuatku tergila-gila. Padahal, cuma jaket. Hampir semua orang di angkatan dia punya jaket seperti itu.
Tapi, warnanya itu, lho. Keren. Banget.

Biasanya, kalau dia sudah memegang gitar dan memainkannya, ah. Nikmat.

Semua tentang dia itu indah-

Tidak! Tidak bisa! Aku tidak mau jatuh cinta dengannya. Aku tidak ingin jatuh cinta dengan siapapun lagi. Aku sudah lelah mengejar yang tidak pasti, yang tentu akan menghabiskan tenaga cukup banyak dan waktu yang lama. Buat apa aku membuang-buang energiku untuk seseorang yang tidak akan peduli padaku?

Setelah aku tahu tentang masa lalunya dan mempelajari dirinya, aku menolak keras. Mana mungkin aku bisa bersama orang seperti itu? Pikirku.
Dia orang hebat, tentu saja, dan semua orang mengaguminya.
Lalu, aku apa?
Apakah aku pantas bersamanya?

Selain pandai menulis, ia dapat berbicara dalam 2 bahasa selain bahasa Indonesia dengan lancar. Salah satu karya dia (karya yang paling kucinta dari semua karya dia) berhasil debut di dalam majalah sekolah, majalah yang semua warga sekolah pasti baca. Kalaupun tidak baca, paling nggak kenal lah sama sosok penulisnya.
Aku sangat iri dengannya, aku ingin sepertinya.

Dia pun jago akting. Memang tak terlihat dari luar kalau dia bisa. Awalnya, aku mengira bahwa dia seorang nerd. Pendiam. Kutu buku.

Ternyata aku salah besar.

Lagipula, semua orang seharusnya bisa akting. Berbohong itu mudah. Tapi, tidak semua orang bisa berbohong dengan baik.

Seeing is deceiving.

Namun, jatuh sudah diriku ke dalam jurang cinta. Aku tak dapat melakukan perintah undo move. Apakah ada orang yang menyediakan seutas tali atau sebuah tangga agar aku dapat naik ke atas? Tentu saja tidak ada. Siapa sih yang mau membantu diriku yang tidak jelas ini?

Terperangkap sudah diriku. Tiada pintu exit untukku. Sebelum aku berhasil menemukan jalan keluar, aku harus bertahan, merasakan pedihnya cinta.

Pedih? Benarkah pedih?

“Cinta”, kata yang sering kalian dengar di televisi, baca di buku, dan ada di semua tempat ini, benar-benar aneh buatku.
Orang bilang cinta ini bagaikan gula. Manis.
Manis sih manis, kebanyakan kan jadi diabetes. Ya kan?
Lagipula, kenyataannya sangat jauh dari ekspektasi semua orang. Cinta itu tidak pernah semanis itu.

Semua yang kurasakan adalah kepahitan. Setiap bertemu dirinya, pahit. Setiap kali ia berbicara dengan lawan jenis- dan seringkali bercanda keterlaluan -pahit. Setiap aku memikirkannya, pahit. Aku tahu otakku adalah otak yang cerdas, tetapi, tolonglah! Kali ini saja, jangan pikirkan dia! Hapus saja memoriku tentangnya, kalau bisa. Seandainya menghapus dia dari otakku berhasil, pasti masih ada bekasnya, meski tidak sebanyak kepahitan di awal waktu.
Pahit layaknya kopi hitam, kopi begitu saja, tanpa ditambahkan gula atau susu.
Hitam, gelap, menyeramkan.

Sainganku pun banyak. Oh, sudah pasti banyak.
Saking banyaknya, aku sampai harus berhitung menggunakan kalkulator. Entah apa yang kumasukkan ke dalam situ, tahu-tahu angka yang keluar adalah 1000. Toh, orang yang kusuka ini adalah orang yang hebat, kan. Orang seperti itu pasti akan diikuti banyak orang, tanpa terkecuali cewek-cewek cantik yang ada di sekolah ini. Cewek-cewek cantik yang sekiranya hanya berniat modus.

Sudahlah, menyerah saja aku.

Suka padanya menyakitkan. Mengapa aku masih bertahan sampai detik ini?
Walaupun kami sering berkontak mata, dan kadang berbicara, masih saja merasa aura ‘awkward’. Bisa jadi hanya aku yang merasakannya, karena dia sudah terbiasa bersosialisasi dengan orang-orang.
Namun, aku selalu menyadari bahwa ada kehangatan tersembunyi dibalik setiap kata yang keluar dari mulutnya yang indah. Ada percikan-percikan cinta yang menghiasi kalimatnya. Aku tahu, itu tidak dibuat-buat. Meski dia jago akting, terlihat perbedaan ketika ia serius dan berbohong.

Aku tidak ingin membesar-besarkannya, apalagi karena dia sudah ada yang punya. Dia bukan milikku, dan tidak akan pernah jadi milikku. Aku sadar akan itu, dan aku tahu kalau aku harus berjuang sampai titik darah penghabisan!

Aku memang orang yang tidak berani mengungkapkan rasa cinta, aku payah. Dalam bentuk apapun, pasti gagal. Cerpen, cih. Puisi, apalagi? Gambar…..ah….lupakan saja.
Itulah, sebab aku diam. Aku hanya bisa diam, diam dan menunggu. Sulit kalau aku harus mengejarnya, apalagi dengan kaki pendek ini.

Sudahlah, menyerah saja aku.

Kuncilah mulut ini, jangan sampai ada yang merangkak keluar.

Biarkan ini menjadi rahasiaku.

Rahasia ‘gila’ ku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s