Say What?

Ya, apa yang sedang terjadi di dunia ini? Apakah damai serta tentram? Mungkinkah malam ini aku akan tidur dengan nyenyak?

Tidak.

Kekacauan dan kerusuhan memenuhi timeline yang setiap hari aku baca. Tak ada hentinya berita itu ada, pasti terus berapi dan tidak akan padam.
Akhir-akhir ini, ada sebuah kasus di kota Paris. Lalu, ada kasus di Korea. Kemudian kasus-kasus lainnya di dunia.

Tetapi, mengapa hanya itu yang diberitakan? Negara Palestina kena bom setiap hari, dan orang lebih memilih memasang hashtag #PrayForParis. Dimana hashtag #PrayForPalestina?

Kecewaku pada era ini adalah pada remaja-remaja yang sebaya denganku. Wanita-wanita Islam di luar sana bersusah payah tinggal di negara yang Islamnya minoritas namun tetap beristiqamah dalam menutup aurat, sedangkan kami yang mayoritas beragama Islam lebih memilih untuk memamerkan badan.

Muslimah di luar negeri itu banyak yang takut keluar rumah menggunakan jilbab, apalagi setelah peristiwa-peristiwa menakutkan yang sedang ramai dibicarakan seluruh dunia. Mereka diancam untuk melepaskannya, karena dianggap teroris. Apakah mereka nyaman diperlakukan seperti itu?

Lalu, kebanyakan dari remaja akhwat Indonesia sudah teracuni oleh budaya Barat, dan merasa bahwa menggunakan pakaian seperti gamis dan kerudung yang menjuntai sampai batas pinggang adalah gaya ibu-ibu pengajian.
Bisa-bisa kita dibully karena kita melangkah di jalan yang benar. Itulah anehnya negara kami.

Aku kecewa, benar-benar kecewa. Kenapa muslimah di Indonesia tidak bersyukur bahwa mereka masih bisa keluar rumah tanpa kerudungnya dilepas oleh orang secara paksa?
Mereka justru senang ber-selfie ria dan memperlihatkan rambut poninya – atau jipon (jilbab poni). Terkadang aku sedih melihat foto mereka yang menggunakan baju lengan panjang, tetapi lengan sebelahnya terlipat sampai batas siku. Terlihat jelas auratnya.
Celana jeans yang sudah ketat pun mereka lipat untuk memperlihatkan mata kaki mereka.
Dan tentu saja kerudung mereka tidak menutup dada mereka secara penuh.
Inikah generasi bangsa yang akan memimpin Indonesia? Inikah generasi bangsa yang patut dibanggakan?

Lalu, apa yang dikatakan sehelai kain dan peniti yang selalu kau pakai ketika kau melepaskan mereka?
“Kau setiap hari memakaiku ke sekolah, tetapi mengapa engkau tidak memakaiku ketika kau hendak berpergian?” kain itu sedih, peniti itu sedih. Mengapa engkau tinggalkan?
“Dasar kerdus,” ucap sang kain.

Mudah-mudahan akhwat Indonesia sadar akan pentingnya menutup aurat, dan bersyukur bahwa Indonesia ini masih membolehkan kami menjalankan agama kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s