What am I?

Anak perempuan yang lahir pada bulan September tanggal 21. Lahirnya pun tidak normal karena ada sedikit masalah.
Intinya aku menyusahkan karena jadi keluar biaya yang banyak.
Belum pula ketika aku sudah lahir. Balita pada umumnya minum susu hanya 2-3 gelas setiap hari. Tetapi aku? Lebih banyak.
Aku pun sempat bermasalah dengan gigiku. Entahlah, kebanyakan makan permen katanya.

Sekarang, umurku sudah menginjak angka 15.
Seharusnya aku lebih dewasa, lebih teratur, lebih hebat. Namun, tidak ada yang berubah dariku.

Orang tuaku tahu kalau aku sudah bisa gambar dari umur 2 tahun. Mungkin itu hanya hobi bagiku, tapi mereka sangat senang karena bakatku itu bisa dikembangkan. Ya, tentu saja.

Ketika sudah kelas 9 SMP, aku difokuskan untuk UN. Tentu saja agar diterima di SMA favorit, sehingga punya kesempatan masuk PTN terbaik a.k.a ITB. Atau UI.
Ayahku yang mengenalkanku ke dunia “DKV” atau “animasi” lah, biar mudah. Aku memang suka menonton kartun, khususnya anime. Dan tentunya Ayahku sangat senang kalau aku ingin berkuliah di ITB, di jurusan itu.
Ditekankan di berkuliah di ITB.

Awalnya, aku sepakat. Kalau aku keterima di SMA itu, aku pasti berjuang demi kuliah di PTN yang terkenal itu. Aku sudah tahu, sulit mendapatkannya. Ayahku yang belajar 10 jam setiap hari saja tidak mendapatkannya, apalagi aku yang belajar masih malas-malas?

Kemudian, aku berpikir. “Apa aku mau di ITB?” “Ya, itu yang terbaik.” “Tetapi sulit.”

Dan guru Desain Grafisku mengatakan “Kalau mau kuliah Desain Grafis, di ISI aja. Itu PTN juga, kok. Khusus seni pula.”

Aku sudah bercerita ke orang tuaku mengenai “ISI”, namun mereka hanya mengatakan “ya” dan mungkin tidak tertarik untuk mencari tahu lebih. Dan tetap berharap anaknya masuk ke “ITB/UI”

Sekarang aku bingung, kenapa aku gak pernah semangat belajar? Kenapa aku selalu pusing.
Kenapa aku selalu capek? Kenapa aku pengen tidur aja dan melupakan sekolah?
Kenapa aku merasa masuk jam 7.00 dan pulang jam 16.30 itu tidak ada pentingnya?

Ketika aku belajar Fisika untuk UAS dan Ibuku mulai hilang kesabarannya, aku sudah gak kuat. Aku menangis.

“Aku gak ngerti apa-apa….aku gak ngerti rumusnya dan aku kalo ngitung lama..”

“Kenapa baru bilang sekarang? Baru ngomong pas UAS..”

Karena aku sudah tidak kuat. Entahlah, apa yang kupelajari selama 4 bulan yang lalu itu.
Gak ada yang masuk. Sial.
ITB jauh.
UI jauh.

“Ibu dan Bapak selalu ngomong aku harus ngejar PTN, gak boleh kuliah swasta! Kan aku jadi takut!! Aku sekarang gak ngerti apa-apa dan aku ntar gak bisa kuliah!”

“Kata siapa gak boleh kuliah swasta!? Yang penting kamu ngerti apa yang diajarin di sekolah! Ibu gak pernah marah kalo nilaimu jelek!”

Tapi apa kenyataannya? Nilaiku jelek terus.
Pusingku gak hilang-hilang.
Semangat belajarku terus turun seiring jarum jam bergerak.

Semua orang punya ekspektasi yang tinggi terhadap aku.

“Orang tuamu kan alumni SMANDEL, alumni LABSCHOOL. Ranking 1 terus. Kok kamu nggak?”

“Orang tuamu dulu IPA, kamu bakal terus di IPA, kan?”

And other shit like that haunting my thoughts every day. It’s making me sick. I can’t take it.
Then if I don’t manage to be the best? What will they say?

“Lah, orangtuanya kan pinter…harusnya kamu juga”

“Kok gak keterima di …”

And I can already imagine my parents reaction when they hear that.

Ada sih, yang nilainya lebih parah dariku. Tapi banyak juga kan yang lebih tinggi? Then what am I? Anak yang hanya bisa buang duit dan mengecewakan orangtua.

Nothing’s really happening outside of me. No one knows how I’m having a emotional fight inside myself. And who’s going to help me?

“Apaan dulu Bapakmu gak pernah remed aja gak keterima ITB. Kamu remed terus.”

“Si (isi sendiri) gitu doang bisa, kamu nggak? Sama-sama makan nasi juga.”

I always say the most hurtful things to myself. But I can never praise myself. That’s since I can’t do much but lie down on my bed and cry it all off.

Terus apa? Sekarang gimana? Nyerah?
Nggak.

Gak mau nyerah, tapi mau ngapain lagi?

Aku selalu ngerasa aku gak berguna.

Pasti selalu ada yang nilainya lebih tinggi dariku.

Pasti selalu ada yang lebih rajin dariku.

Pasti selalu ada yang lebih aktif dariku.

Mengapa orang-orang itu bukanlah aku?

Jujur, aku benar-benar lemah di pelajaran Fisika dan Matematika. Tetapi itu gak bisa jadi alasan untuk pindah jurusan.
Karena, aku tidak harus berjurusan “IPS” untuk berkuliah di PTN kesenian, karena buktinya orang-orang IPA aja bisa keterima?
Kedua, what kind of fucking failure am I to tell them that I moved classes just because I can’t do “Physics” and “Maths”?
Aku masih bisa Kimia dan Biologi, kok.
Masih bisa survive. Setidaknya.

Dan ya, udah pasti gak boleh pindah sih sama ortu.

Reminding you that, “Dulu ortumu IPA, kok kamu IPS?” would be said a lot later.

Ya pasti, pada malu kan kalau aku jadi anak IPS? Dan, aku sendiri gak gitu minat sama pelajaran IPS.
Ekonomi, sosiologi, sejarah lanjutan. Nice.

Tapi, aku gak tahan sama 2 mata pelajaran itu!

Udahlah. Gak penting.

Mending jalanin aja dulu.

Nyerahnya ntar aja menjelang UN.

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH as if.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s