Benci

Kau boleh sebut aku gila. Ya, aku tidak sedang bercanda. Ini serius. Tidak dibuat-buat.

Aku yang sudah diberi ekspektasi tinggi oleh orang tua ini selalu berpikir panjang. Terus dan terus berpikir tanpa melakukan apa-apa.
Sudah terlalu takut dengan tujuan yang terletak tinggi. Orang tuaku selalu ranking 1, diterima di sekolah favorit. Namun mengapa diriku tidak ingin seperti mereka?

Selalu terulang fenomena ini. Orang tua cerita bahwa mereka dulu juara, dan berharap anak ikut bangga dan punya semangat yang sama. Kemudian turun pula ke anaknya anak itu. Dan pokoknya sekeluarga jenius semua.
Belum tentu selalu itu sih. Jujur, aku bangga orang tuaku pinter. Tapi apa aku akan seperti mereka? Apakah aku adalah mereka?

Atau mungkin aku yang terlalu banyak berpikir? Karena tekanan orang tua serta keluarga yang selalu mengatakan “Bapak Ibumu ranking 1 terus kok, ya kamu juga bisa dong?” technically, it’s possible. Dengan mengatakan “kamu juga bisa dong?” itu menyemangati. Beda ya, di kepalaku hanya ada kata-kata “harusnya bisa dong?” tentu kata ‘juga’ hilang dan entah darimana muncul ‘harusnya’, yang membuatku semakin jengkel.
“Harusnya? Ya, emang gua hasil kloning Bapak Ibu gua? Ngasal kali.”
Dan itu aja yang selalu memutar di kepalaku.
Ekspektasi orang yang tinggi, yang sekaligus menyindir aku yang “gak bisa” itu “seharusnya” bisa karena “orang tuaku pintar”.
Pertama, kecerdasan tidak bisa diturunkan. Itu tergantung anaknya deh kayaknya?
Dan ya kedua itu “gua yang mikirnya terlalu jauh”

“Kamu itu sebelum perang udah nyerah duluan, aaah pusing pusing.”
OK, untuk meluruskan, pusing itu beda. Entahlah kenapa, nanti bisa dicari kenapa pusing.
Nyerah? Kalau aku nyerah, aku gak mungkin ada di sekolah ini. Mungkin aku udah di SMAN mana tahu, di pelosok mana gitu, dan berangkat pake apa gitu?
Jujur, aku gak kelihatan semangat belajar. “Terus selama ini di sekolah ngapain?”
Nice question. Ya, belajar lah. “Belajar apa?”
Gak tau.

Tentu sih dengan peringkat 7 masih bisa dapat jalur undangan. Mungkin bisa.
Tapi ya aku nya aja yang “malas” atau “gak semangat” atau “udah nyerah duluan”

“Bu, anak saya nangis-nangis katanya gak bisa Matematika sama Fisika, katanya mau pindah ke IPS!”
“Lah..gak usah, Pak! Anaknya ranking 7!”
Ya, Bapak gua kaget. Banget. Bapak gua kira gua ranking 25 apa? HAHAHAHAHAHAH bego.
Nah itu lagi salah. Ngatain bego ke diri sendiri.
But yeah that’s probably what I am.
Bapak gua aja heran NEM gua 37. Gua dibilang hoki coba. Yeah, I couldn’t even do half of the questions tapi UAS Matematika gua 82.5? Really? Serius semalam sebelum tes itu gua cuma belajar pelajaran lain selain Matematika menyebalkan itu. Dan entahlah, malah nilainya bagus? Dengan sistem kebut pagi-pagi. Cih.
But that means that because they see me as a lazy child, they think I’m also stupid. But, surprisingly I got the 7th rank out of 42 students. Weird, huh?
Sumpah….gak percaya…..

Tapi jujur, paling gak kuat sama 2 pelajaran itu.
And like I said somewhere in my previous post, people will make fun of me if I moved classes just because I fail at those 2 subjects. Stupidly true.

Antara pindah atau nggak? Hm.

Kalau nggak pindah? Aku semakin menderita.
Menderita dengan perasaan benci di dalam diriku. Karena aku gak sanggup Fisika dan Matematika.

Orang tuaku bilang “jangan nyerah dulu”. Saying words are easy, but can I do it? Who knows?
Do I want to do it? Probably not.
Why? I’m not able to.
Why? Because I said so myself.
And am I going to keep on being like this until I graduate? Maybe.

Why do they not understand how stressed I am when I look at those 2 subjects? Benar-benar gak ngerti apa-apa. Nol.
Benar, mereka menyemangati. Dengan cara “jangan nyerah dulu” “kamu bisa kok”
But I have a coward mental that I can’t destroy.
Scared to try, scared to fail, scared to even do anything.
Itulah rasanya, membenci pelajaran. Membenci karena gak ngerti apa-apa. Mentok.

“Kalau gak ngerti ya beli buku lagi, beli bank soal, nonton video.”

Beli buku? Percuma gak sih kalau emang aku gak ngerti apa-apa. Isi bukunya gak beda jauh kok sama buku sekolahku yang gak jelas itu.
Ngerjain soal? Ngerti aja nggak.

↑ dan pemirsa, inilah sifat buruk Kana yang tidak bisa sulit dihilangkan.

AKU SELALU BILANG AKU GAK NGERTI DAN ORANG TUAKU SELALU NGOTOT “KAMU BISA! CUMA MALES AJA!” TAPI YA MEREKA LIAT DONG ULANGAN BERAPA? DI KELAS AKU KAYAK GIMANA? TAU NGGAK KAYAK APA?
Aku capek. Ini serius, gak bercanda.
Beneran susah 2 mapel itu. Anehnya, hanya 2 itu aja. Ituuu aja yang minta aku hilangkan, dan ya itu tidak bisa dihilangkan.

BEDA YA “MALES NGERTI” SAMA “GAK NGERTI”. Gua susah ngerti materi kayak gitu.
Bukannya ngebanggain otak gua “kesenian” juga, ya emang dari lahir gak bisa itung-itungan.
Dan gua malu ngomong ke orang tua,

“INI LOH, PAK, BU. AKU TUH BEGO. GAK BISA NGITUNG.” dah.

“AKU KALO NGITUNG LAMA. AKU GAK NGERTI RUMUS. GAK NGERTI SOAL. AKU BINGUNG BACA SOAL. AKU BINGUNG JAWABNYA. SUSAH. PUSING. STRESS.

“alah kamu mikirnya kejauhan itu. pantes pusing.”

“KATANYA KALAU AKU HARUS PTN. AKU PASTI GAK DIBOLEHIN SWASTA.”

“kata siapa? nanti ibu yang bayarin kamu kuliah swasta!”

“TAPI AKU MALU BU NANTI KETERIMA SWASTA CUMA KARENA GAK BISA MATEMATIKA FISIKA.”

Sorry for readers yang ternyata kuliah swasta. Bukannya gua ngejek ya, swasta bagus kok.
Tapi ini kondisi dimana orang tua gua sangat anti anaknya keterima swasta dan sangat ingin anaknya masuk PTN. Ya iya, orang tua mana sih yang gak mau anaknya masuk PTN?
Tapi ya, Bapak gua itu loh. Malu b a n g e t seandainya gua diterima di swasta.

Dan ujung-ujungnya drama bullshit itu ditutup oleh pernyataan bahwa saya ranking 7. Heran?

Tapi tetap takut. Takut karena apa kata Bapak yang ITB saingannya gila dan “Bapak aja gak pernah remedial gak keterima ITB, gimana kamu yang remed?” kan menyebalkan?
dan “rank 7” ini gak membanggakan bagi gua.
Ya gua bersyukur sih, tapi apaan rank 7?
Setengah kaget setengah sebel.

“Apaan sih, kan bisa lebih bagus” dan “Dih kok bisa, kan Fisika Matematika lu udah nyerah duluan?”

Gak bisa salahin orang tua, gak bisa salahin guru, gak bisa salahin teman.

Salahnya terletak di diriku sendiri. Kenapa aku begini?

Aku benci diriku. Ya, ini harusnya dilarang. Ini tidak sehat namun susah untuk menghentikannya.

Aku benci aku tidak bisa belajar.
Aku benci aku mudah menyerah.
Aku benci aku lemah, dikit-dikit nangis.
Aku benci aku mengeluh terus.
Aku benci aku selalu merendahkan diri.
Aku benci aku selalu membandingkan diriku dengan orang lain.
Aku benci aku menganggap aku gendut.
Aku benci aku ditakdirkan pendek.
Aku benci aku percaya komentar orang terhadapku.
Aku benci aku pusing melulu.
Aku benci aku selalu ingin punya alasan supaya sakit.
Aku benci aku tidak pernah bisa membanggakan orang tua sepenuhnya.
Aku benci aku tidak bisa berubah.
Aku benci aku tidak bermanfaat bagi orang.
Aku benci aku selalu dijadikan pajangan saja.
Aku benci aku yang menyakiti orang yang aku sukai, karena aku sadar orang tersebut tidak akan menyukaiku.
Aku benci aku selalu kepikiran mencoba bunuh diri.
Aku benci aku membenci diriku yang terlalu lebay, terlalu memikir jauh.

Tidak ada yang lebih buruk daripada membenci diri sendiri, dan hanya kita yang dapat mengubahnya.

Salah besar membully diri sendiri, karena lukanya lebih dalam daripada dibully orang lain. Dan tentu berpengaruh pada fisik (contoh: suka pusing-pusing)

Sulitnya mengubah benci menjadi benar-benar cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s