Kau Dilanku tahun 2015, dan (semoga saja) seterusnya

a/n : ini berdasarkan kisah cinta asli, sayangnya bukan kisah cinta gua *hiks*
author mau jujur aja nih TAPI KISAH CINTA TEMEN-TEMEN AUTHOR NIH
BIKIN TERHARU sedangkan author sendiri apa ya hm. anyway..

.

Aku sudah dekat dengannya dari dulu. Sejak masa orientasi kami memang sudah bercanda bersama, makan siang di kantin bersama, dan melakukan kegiatan lainnya bersama.
Semua orang juga tahu kita dekat. Meskipun aku juga suka main sama yang lain, tentu dia lah yang terdekat denganku. Dilanku, tahun 2015.

Aku juga tidak pernah peduli kalau teman-teman dia membenci kehadiranku. Ku biarkan mereka menertawaku dan dia sepuasnya.

Semua ini aku jalani sampai suatu saat aku mengetahui bahwa Dilanku ini sebentar lagi sudah tidak akan menjadi Dilanku selamanya.

“Lu kenapa sih gak mau makan?” dia mencoba menyuapiku dimsum karena aku tidak ingin makan padahal sedari tadi kami berdua mengelilingi toko buku dan mencari satu buku puisi yang tak pernah dapat ditemukan.

“Gak laper,” sesimple itu.

Lalu ia bercanda denganku. Ia bilang perempuan itu akan datang, namun ia sendiri mengira bahwa itu hanya bercanda saja. Ku berharap itu hanya bercanda saja.
Namun perempuan itu hadir di depanku usai aku makan.

Ya, entah apa hubungan dia dengan Dilanku.

Tetapi “permata indah” itu tak akan bisa merebut Dilanku begitu saja. Tentu tidak.

 

.

 

 

Hari ini aku latihan Musikalisasi Puisi di studio bersama teman-temanku. Tetapi anehnya aku merasa sedikit terganggu dengan suasana dalam studio ini. Ramai, terasa. Kenapa aku yang justru merasa kesepian?

Dilanku berbaring di karpet, aku duduk di dekatnya. Tiba-tiba dadaku terasa sesak, aku hilang kesadaran dan pingsan. Orang pikir aku sengaja tidur di pangkuannya. Tidak, oh tidak.

Aku diangkat oleh tiga teman baikku yang rela menggotong aku sampai UKS. Untung saja letak studio dan UKS berdekatan (ya dipisahkan oleh dua kelas XII IPS). Dilanku bertanya “kalian kuat gak? kalau gak, gua aja yang angkat dia,” kepada teman-temanku.

Sesampainya di UKS, Dilanku membawa diriku ke kasur. Ia mengangkat badanku pelan, sungguh terasa sentuhannya. Kehangatan tangannya.

Aku batuk dan terus batuk. Air mata mulai banyak keluar.

“Tolong tulis ini untuk Dilanku,” ucapku pada salah satu teman terpercayaku.

Entah bagaimana caranya aku mengarang puisi dalam keadaan seperti ini, tetapi kenyataannya begitu.

“Tolong kasih ke tiga orang itu ya,” tentu hanya mereka yang dapat membantu diriku yang tersiksa ini.

 

Sedangkan di studio, Dilanku menangis.

“Udahlah, lu pasti ngerti kata-kata dia,” salah satu temannya menepuk bahunya pelan sambil memegang kertas berisi puisi tadi di tangan lain.

“Lu gak ngerti…gua kasian banget sama dia…”

Ia memeluk kursi dengan erat; andai itu diriku.
Ia melepaskan seluruh amarahnya, air matanya.

 

Aku yakin ia mencintaiku lebih dari dia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s