The Hectic Trip pt. 1

in which i have too much free time on my hands. 

Sekarang sudah akhir bulan Februari dan para siswa-siswi SMA bergegas menuju bis-bis yang sudah parkir di parkiran sedari tadi. Bis 7 sudah pasti bis terkeren karena berisi manusia-manusia yang luar biasa kerennya.

Pukul 5, semua bis berangkat menuju Bandung. Perjalanannya sangat lama namun terasa asyik berkat anak-anak lelaki yang terus saja menyanyi di belakang, guna menghibur penumpang di depan.

Salahnya adalah Ipeh datang terlambat (seperti biasa). Menyesal sih nggak karena dia jadi terpaksa duduk di kursi-kursi belakang (bersama anak lelaki) dan tidak bersama ketiga teman baiknya. 

“Cie Joko duduk sama Ipeh..” seperti biasa Agung meledek Joko (tetapi hanya berbisik saja, ia tak ingin yang lain ikut. Ntar rusuh)

“Apaan sih, gung! Orang lu juga duduk sebelahan sama dia.” Ipeh yang berada di tengah-tengah mereka berusaha tidak menguping. Yah, namanya juga berusaha.
.
Akhirnya tiba di penginapan. Semua murid turun dari bis dan ke rumah-rumah yang sudah ditentukan. Walas kelas XI IPA 7 membacakan kelompok-kelompok untuk kegiatan study tour ini.

“Kelompok 6, Agung, Edi, Ipeh, Joko, Markoni, Sukoco.”

Ipeh pun terkejut. 

Masa sih dia sekelompok manusia-manusia itu!?

“Ya, selamat. Kalian serumah. Tapi Ipeh kamarnya sendiri..” Walas berpesan kepada kelompok Ipeh. “Ipeh jaga diri ya, mereka serigala-serigala buas!”
“Siap, bu!”

Meskipun sudah berdo’a sebelum berangkat dan ketika sampai di tujuan, ada saja yang kecelakaan. 

“Eh cepat! Cepat! Manik pingsan!” Bagus berteriak kencang agar sekelilingnya mengalihkan perhatian kepadanya. 

“MANIK PINGSAN!?” Joko yang sedari tadi sibuk nongkrong di warung Mbok Sumi segera lari ke sumber suara, meninggalkan Agung duduk sendiri. 

Bersama Bagus, Juned, dan Riksa, Joko menggotong Manik ke rumah warga terdekat. Kebetulan, rumah itu memang rumah kelompoknya Manik. 

“Makasih banyak ya udah bantuin..” Diana merasa bersalah sudah menyusahkan teman-temannya. 

“Gapapa Dee.. justru kita yang makasih hehe,” Joko sangat bersemangat sudah membantu mengangkat sang Putri Raja (re : pejabat tingkat atas)

“Seneng banget lu yak!” Udin berhasil melewati keramaian dan terjun ke rumah kelompok si Manik. 

Sebentar lagi saatnya makan malam. Anak-anak membantu para pemilik rumah untuk memasak hidangan yang spesial untuk dinikmati bersama.

Namun di rumah Ipeh jauh berbeda.. 
“Eh bantuin dong! Gua butuh ikan nih, masih kurang tiga!” Ipeh berteriak namun yang mendengar hanya satu orang. 

“Udah, udah itu kan tugas lu, Peh! Kita sebagai pria tinggal makan.” Sukoco berbaring di atas tikar dan membaca koran milik Bapak Agus (pemilik rumah ini) 

“Yah terserah kalau lu pada gak mau makan..”

Kemudian Agung dan Markoni berinisiatif untuk mengambil alat pancing Bapak Agus dan pamit keluar rumah untuk memancing di belakang rumah. Hebatnya, mereka berhasil mendapatkan 5 ekor ikan. 

“Nah, sekarang tugasnya Edi sama Joko buat masak ikannya!”

“Ah ikan doang kan? Gampang lah, Edi sendiri juga sanggup. Iya gak, Di?”

“Bilang aja lu gak bisa masak, Jok!!”

Daripada melanjutkan berantem, akhirnya Ibu Susi memaksa kedua manusia itu untuk masuk ke area dapur dan memasak untuk 8 orang ini. 

Hasilnya? 
“Ini…. apa?” Markoni bingung. Biasanya nggak. 

“Ikan.” jawab Joko dengan singkat. 

“Kok… item?”

“Ya emang dari sananya item, pak.”

“Tapi..”

“Apa?”

“Ini…” Markoni sempat mengambil napas terlebih dahulu sebelum berkata jujur. Takut tiba-tiba jantungan dimarahin Joko, gitu. 
“…… gosong.”
.

Usai makan malam, semua penghuni rumah Bapak Agus bersiap-siap untuk tidur karena besok hari kegiatannya sangat padat dan butuh energi yang banyak untuk menjalankan semua kegiatan yang diadakan oleh sekolah. 

Saat Ipeh dan Agung sudah mandi dan mengenakan baju tidur, keempat manusia malas itu masih saja bermain Crisis Action di kamar mereka. 

Ipeh mengambil peralatan gosok gigi dan cuci mukanya lalu bergegas menuju kamar mandi. Rupanya di dalam ada Agung. Tenang, ia sedang menggosok giginya. 

“Boleh masuk?”

“Masuk aja.”

Ia merasa sedikit canggung meski hanya numpang sikat gigi. Kali ini, ia sikat gigi bersama teman sekelasnya, cowok lagi. Gimana gak deg-deg an?

Ada cermin yang cukup besar, menggantung di depan dinding. Agung menghindari menatap cermin itu, menjauhi matanya dari mata Ipeh. Ipeh pun sama, melihat sekeliling kamar mandi dan berusaha untuk tidak memandangi cowok cakep di samping kirinya. 

“Ehm,” Agung selesai menggosok giginya dan segera keluar kamar mandi. 

“Ya?” Ipeh menjawab sambil memutar sikat giginya searah jarum jam. 

“Udah ngantuk belom?”

Tumben-tumbennya Agung bertanya Ipeh. Rasanya mencurigakan. 

“Kenapa emang?”

“Jawab dulu itu pertanyaan gua, Bu.”

“Eh iya hehe… ” Ipeh mengambil jeda untuk meludah.” Belom. Kenapa emang?”

“Mau ngomongin laporan nih, belom bagi tugas sama yang lain.. gapapa kan?”

“Ya.. gapapa kok.”

Sialnya ketika Ipeh ingin keluar dari kamar mandi, ia terpeleset karena lantai yang basah dan ketidakpedulian dia. Dasar cuek. Untung saja ia ditangkap oleh Agung.


“Jadi gimana laporannya?” tanya Markoni.

“Gua udah bagi job desc, nih.” Agung menyodorkan selembar kertas kepada Markoni.

Sudah tertera jelas bahwa judul; tanggal; dan tujuan adalah tugas Edi, dasar teori adalah tugas Joko, hasil pengamatan itu urusan Sukoco, pembahasan milik Agung dan Ipeh, dan kesimpulan serta daftar pustaka adalah tugasnya Markoni.

.

Tentu saja setelah itu mereka segera tidur karena besok adalah hari yang penuh dengan berbagai macam aktivitas bagi mereka.

Namun, sang Ketua dan Wakil kelompok masih berbincang-bincang meski jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.

“Sebenarnya lu masih suka sama Joko gak sih?” meski tiba-tiba, Ipeh sudah tahu Agung pasti akan menanyakan perihal itu padanya. Tetapi ia tidak tahu kalau itu sekarang.

“S-suka? Hm… kalau lu gimana? Lu juga pasti masih suka sama Sina?”

“Nggak sih yeee Sina udah punya pacar.”

“Dan kalau dia udah punya pacar tandanya lu udah gak boleh suka dia?”

“Gua emang gak suka dia…”

Padahal selama ini yang Ipeh (dan semua anak sevel tahu) itu Agung suka sama Sina sejak SMP. Bahkan ke prom night bareng.

“Ya, sejujurnya sih gua udah lama suka sama lu,”
Agung menatap ke arah lain, menghindari mata Ipeh yang berbinar-binar (yang tentu membuatnya makin menggila)
“Tapi gua juga udah yakin lu sayang sama Joko.”

Deg.

Ipeh tahu dia suka dua orang secara bersamaan. Ya, agak mustahil setelah dipikir-pikir tapi fangirl aja bisa punya dua bias sekaligus..
(ya yang satu bias beneran, yang satunya bias wrecker)
Ipeh dari dulu udah suka sama Joko, tapi semenjak ia penasaran dengan Agung ia terus mencari tahu tentangnya dan menjadi gila karenanya.
Lalu apa yang harus ia katakan pada Agung?

“Gimana ya, gung..” Ipeh menghela napas. “Semua orang tahu gua suka sama Joko, tapi gak ada yang tahu kalau sebenarnya gua juga suka sama lu.”

Agung menatap Ipeh kembali. Tentu ia kaget mendengar ini. Dan sedikit senang.

“Dan lu milih siapa?”

“Ya jawabannya nanti ya abis live-in.”

Ipeh sendiri harus mencari tahu sebenarnya ia suka siapa, secepatnya. Agung sabar tetapi ia sangat penasaran dengan jawaban Ipeh.

Siapakah yang tersimpan di hatinya Ipeh?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s