love at first sight.

a/n : sejak h-1 kan gua ngeship HAHAHA parah itu anak orang 

a/n 2 : ini p.o.v cowok cos why not heheehHEHEHEH i’ve always made fanfics in a girl’s p.o.v so this should be interesting

a/n 3 : its 50% real 50% fiction eheh

a/n 4 : obake yashiki itu rumah hantu dalam bahasa jepang heheheh

“i’ve seen you before, but i can’t remember when.”

“diana!” nadine memanggil diana yang sedang menyapu ruangan kelas.

aku membantu dimas dan umar memasang kardus untuk menutupi jendela, berharap ini akan membuat ruangan x ips 3 gelap dan menciptakan suasana menyeramkan. 
di luar, salah satu kardus lepas dari jendela atas dan aku segera lari untuk membetulkannya. nadine melihat diana yang baru saja keluar dari kelas dan memberikan lakban kepadanya kemudian lari ke dalam untuk membantu anjani.

“kardus sialan.” aku bergumam.

“gapapa?” ia bertanya, penasaran.

“apanya?”

“ya kamu lah! masa kardusnya?”

aku menahan malu dan menatap ke atas. matanya yang berbinar-binar itu berhasil membuatku menggila sesaat. bahkan aku hampir lupa bagaimana cara bernapas.
ia membantu memotong lakban hitam dan memberikannya kepadaku. 

“nih,” jari-jarinya yang halus tak sengaja menyentuh jari-jariku pelan. getaran terasa, pelan tapi menyeluruh.

aku merinding sejenak namun tetap berusaha untuk menjaga keseimbangan di atas kursi merah yang kehilangan satu ujung karetnya. setelah menempelkan kardus di jendela, aku merasakan goncangan dari bawah. sepertinya aku akan ja-

BRUAAAK!!

“e-eh! hadi!!” diana panik. gulungan lakban yang ia pegang terlempar dan sekarang yang ia pegang adalah badanku.

kardus yang barusan ditempelkan ke jendela lepas kembali dan jatuh ke kepalaku. ia menertawaiku dan mengambil kardus sialan itu lalu melemparkannya ke samping. 

ternyata ia lebih cantik ketika sedang tertawa. seperti matahari, senyumnya terang dan menghangatkan jiwa.

“in my dreams, you suddenly appeared then faded away so fast. like a mirage, so real and tempting but unreachable.”

setelah beberapa jam mengubah kelas rapi itu menjadi kelas yang tampaknya habis dijajah zombie, diana ditelpon orang tuanya dan segera membereskan barangnya untuk pulang. aku bersama dimas, nadine, umar dan beberapa anak OSIS lainnya melanjutkan mendekorasi kelas. 

besoknya, aku sampai di sekolah dan menemukan diana yang sedang melukis papan tulis menggunakan cat air milik anjani. gambar hantunya sangat bagus, bahkan terlalu bagus untuk kelas se-berantakan ini. 

usai melukis, ia dan nadine membantu menempelkan kertas crepe di pintu masuk obake yashiki. aku sibuk menatap dirinya, tanpa menyadari bahwa masih banyak jendela belum tertutup rapat.

dan akhirnya, obake yashiki jadi! setelah benar-benar jadi, kami semua pergi ke ruang sebelah untuk memakai make-up.

diana, hani, dan farsya dihias oleh anjani. nadine memutuskan untuk menutup wajahnya dengan wig karena ia terlalu malas bersolek (re: terlalu malas menghapusnya nanti)

sesi pertama berjalan dan setelah satu jam selesai juga. para pemeran hantu pada shift tersebut kembali ke x ips 4 dan beristirahat.
“diana! kamu bisa make-up-in hadi gak?” tanya nadine yang sedang makan lontong sayurnya.

“biii…sa..” diana juga lelah habis shift pertama namun masih bisa membantu merias teman yang baru ia kenal.

mendengar pertanyaan nadine, aku kaget. kenapa harus dia yang merias aku? anjani kenapa emang?

setelah anjani merias dimas dan aku mengganti pakaianku, aku berjalan menuju loker-loker yang disusun alias spot ganti baju. 

hanya ada aku dan dia di antara loker-loker tinggi itu karena dimas dan anjani sudah entah menghilang ke mana. 
ia mengambil bedak bayi dan menutupi seluruh wajahku.

“ratain sendiri ya, aku gak bisa ratain..” dengan polosnya ia tersenyum manis. 

“aku juga gak bisa..”

kemudian nadine datang dan melihat aku yang sedang dirias oleh dia.

“kak, tolong ratain dong bedaknya..” ia memberikan botol bedak kepada nadine.

“waduh.. ehm.. aku gak ngerti gimana ratainnya..” dan nadine pergi meninggalkan kami berdua.

aku menambahkan bedak di daguku dan ia mulai mengambil cat dari palet face deco lalu mewarnai mataku dengan warna tergelap yang ada. bukannya terlihat seram, aku justru lebih mirip panda gizi buruk. warna merahnya dapat membuat orang berasumsi aku memiliki kelainan kulit. tapi aku tetap menikmati setiap kali ia menggoreskan cat dingin itu pada wajahku dan setiap kali ia menatap mataku dan mengatakan “sabar ya, bentar lagi selesai.”

padahal aku tak ingin berhenti secepat ini.

anjani dan dimas kemudian datang dan melihat hasil lukisan diana. tak lama setelah itu, mereka bergegas menuju obake yashiki dan mulai bermain.

nadine datang lagi untuk menatap aku dan diana untuk keempat kalinya lalu pergi lagi karena mau sholat zuhur. 

aku menatapnya lagi. aku selalu menatapnya dan berusaha agar ia menatapku kembali.

“hey,” ia mengalihkan pandangannya ke langit-langit kelas. wajahnya memerah perlahan layaknya bunga mawar yang pelan-pelan membuka, menunjukkan keindahannya.

“what?”

“don’t look at me like that!”

wajahnya yang berusaha marah membuatku sedikit geli. dia sangat imut, dan tidak cocok kalau ngambek seperti itu. 

ah, aku suka.

“hahah..” ketawaku lepas begitu saja, membuat dia semakin kesal kepadaku.

“ih, kok ketawa sih? emang ada yang lucu ya?” diana memukulku pelan. ia tak tahu bahwa pukulannya itu membuatku semakin cinta padanya.

“ada kok,” aku tersenyum puas.

“apa tuh?”

“kamu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s