satu minggu.

untuk : kau
dari : aku

πŸ“†

1. jumat, 21 juli 2017.
kelas redup. posisi bangku acak tidak beraturan. papan tulis merefleksikan sedikit cahaya dari sela-sela gorden, menyinari tubuhmu yang begitu gagah.
tak ada manusia lagi selain kita berdua. hanya aku, kau, dan Tuhan yang tahu itu.
suara detak jantungmu terdengar jelas di ujung sini, perlahan mengikuti ritme detak jantungku.
langkah kakimu menyusuri lantai berdebu menuju lemari loker di pojok kelas.
kau mengambil helm merah legendarismu β€” aku yakin hanya kau dari sekian ratus orang di sekolah yang memiliki helm itu β€” dan berjalan ke arah pintu.
aku pikir kau akan meninggalkanku begitu saja.
ternyata tidak.

aku punya radar, ya, ini sungguhan. bukan mengarang apalagi sulap sim salabim. ini nyata.
baru saja aku menggeser kursi korduroi itu ketika radarku menangkap kau sedang memerhatikanku.
tanpa perintah, kepalaku bergerak dengan sendirinya.
aku sudah tahu kau akan bilang “duluan,” seperti kebanyakan orang saat ingin pulang “duluan”.
namun aku tak pernah menyangka kau benar-benar mengatakannya.

gelombang suara berfrekuensi rendah itu terus berputar dengan indah di dalam telingaku.
seolah-olah ia adalah irama yang membangkitkan semangatku kembali,
meskipun aku sudah yakin aku akan melupakan dirimu, sayangku.

benar,

aku akan melupakan semua yang terjadi sebelum hari ini terjadi,
dan aku akan mengingat semua yang akan terjadi setelah hari ini.

πŸ“†

2. senin, 24 juli 2017.
dua hari setelah peristiwa itu. langit biru mengucapkan “selamat pagi” kepada para penghuni.
lapangan basket terlihat licin mengkilap karena gemercik air mata awan pukul lima pagi.
aku duduk di podium, menatap angkasa,
kau sibuk bermain sepak bola.

tanpa aku sadari, radar itu berbunyi kembali.
tidak ku suruh dan tidak kuinginkan, kepalaku berbelok ke kanan, menghadap dirimu yang menatapku dengan tatapan kosong.
bagaimana aku tahu itu tatapan kosong yang kau berikan padaku?

melotot adalah ketika lawan bicara ingin menegaskan suatu pernyataan, atau mungkin saja karena marah.
melirik adalah tatapan cinta curian, tak butuh waktu lama tetapi deg-degan berjam-jam.
dan tatapanmu?

nad, ganti baju yuk.” temanku memanggil.

kau berhenti menatapku dan lanjut merebut bola dari tim lawan.

kosong; entah “tidak ada apa-apa” atau memang “ada apa-apa”

kau bingung, begitupun denganku.
entah marah, entah sayang.

perasaanmu tidak pernah jelas, dan radarku tidak pernah bisa mentranslasikan sinyal darimu,
sayangku.

πŸ“†

3. selasa, 25 juli 2017.
kau duduk di seberang, menghadirkan ruang kosong di antara kita.
akan selalu ada jarak antara aku dan kau, bagaimanapun caranya.
aku tahu kau tetap akan berusaha merangsang radarku kembali. 

pasti.

ibu guru memberikan tugas kelompok kepada kami.
aku dan teman sebangkuku,
kau dan teman sebangkumu.
hanya canggung yang berputar di sekeliling kita berempat.

kita sibuk mencuri lirikan di antara keheningan pembicaraan.
di saat semua orang bertukar pendapat, kita bertukar pandangan.
berusaha sebaik mungkin untuk menatap orang yang berada di serong kita β€” tetapi tetap menjaga agar tidak tertangkap basah.

kau sibuk menatapku, dan memutarkan bola matamu ke arah lain.
kau menggaruk kepala, berusaha menyeimbangkan pulpenmu di lengkungan philtrum. tahi lalat di pipi kananmu ikut tersenyum bersama bibir manismu.
aku pikir kau iseng.
namun lirikan tajam itu akan tetap kosong bagiku.

tapi, di sepersekian detik itu, kau tertangkap basah oleh radarku.
mataku berputar 90Β° dan menerkam matamu. pupilmu berhasil melebar sekitar 20%.

meski kepalaku menunduk dan sedikit tertutup dengan jaket angkatan, kau tetap melihatku dengan jelas, kan?
begitu pula denganku, kau berusaha menutupi wajahmu dengan buku tulis merah itu, walaupun mukamu jauh lebih merah.

teman sebangkuku sibuk menulis, teman sebangkumu sibuk diam.
dan kita sibuk saling menatap di sepersekian detik itu.

πŸ“†

4. rabu, 26 juli 2017.
tiga jam terakhir hari ini diisi oleh pelajaran kimia.
ibuku dosen teknik kimia, tetapi aku tak pernah mahir dalam apapun yang berhubungan dengan pelajaran itu.

kelompokku berkumpul di dekat tugu jam, dan kelompokmu sudah memulai di dekat tiang pull up.

usai memutar wadah plastik, susu membeku. garam yang telah ditaburi berhasil menurunkan titik beku es batu tersebut. tak terlalu keras, dan tak terlalu lembut pula. tekstur es tidak creamy seperti magnum tapi tidak terlalu pecah seperti es doger.

cokelat,
konsistensi antara rasa kakao yang sedikit pahit serta manisnya susu mengimbangi terasa pas. papila-papila lidahku termanjakan. 

anggap saja ini analogi teruntuk kau,
yang pahit juga terkadang manis.
rasa cuekmu menyakitkan tetapi lengkungan di wajahmu selalu mengobatiku, kapanpun itu.

kau adalah es puter cokelatku.

aku sedari tadi memerhatikan kau, yang duduk di atas tiang sambil menikmati mahakaryamu, es puter cokelat. lagi-lagi, bibir manismu tersenyum. membuat ritme detak jantungku pecah berantakan.
kelompok lain memilih rasa vanila dan stroberi, tetapi
kita mencoba rasa yang berbeda dengan mereka.

cokelat.

πŸ“†

5. kamis, 27 juli 2017.
hari yang muda diawali dengan pelajaran sejarah wajib. AC itu terus menghembuskan udara sejuk, membuat seisi ruangan kelas ini menggigil tak berdaya. tentu jaket, syal, dan penghangat lainnya siap sedia.

kau tertidur manis di serong kiriku, sesekali mengedip, memastikan ibu guru sedang tidak memperhatikanmu.
dua jam usai membahas mengenai disintegrasi bangsa, dan kau terbangun dari mimpi indahmu (entah apa yang kau mimpikan itu).
lalu, datanglah jam istirahat yang sudah ditunggu-tunggu semua orang.

kita meninggalkan kelas dan memeluk kehangatan matahari.
kau bersinar, memancarkan cahaya ke penjuru sekolah. 

kemudian, fisika datang menghampiri.

tiga jam fisika itu tidak membuatku lelah kok, selama aku memahaminya dan kau pun ikut ambisius sepertiku.
akhirnya, ya.

usai sholat zuhur, aku menunggu di samping sport hall sambil mengamati puluhan siswa yang berangkat dan pulang dari masjid.
tak sengaja kepalaku menegok ke selatan dan terlihat kau berjalan menghampiriku bersama kedua temanmu.

eeeh nadia,” salah satu temanmu menyapa. tentu bibir manismu tetap terkunci, tak ingin bergerak satu millimeter pun.
kau tidak peduli, dan tak akan peduli walau kau tahu aku berada tepat 10cm di depanmu.

sebelum kalian sempat mengantre di tempat wudhu, kau menengok kembali ke arahku, memeriksa apakah aku masih berada di sini atau sudah beranjak pergi.
kau terkejut.
setelah sepersekian detik mencuri pandangan, kau segera menyusul teman-temanmu. melarikan diri supaya wajah ini tak melihat wajah merah mudamu.
jam istirahat berakhir, dan jam seni budaya mulai.

seni budaya. pelajaran favoritku, juga bagimu.
aku sedari kecil dibesarkan di lingkungan yang mendukung seni rupa dan seni musik, kau juga.
sejak kelas 10 kau selalu terlihat memetik gitar hitam itu dengan indah. apapun yang kau gambar adalah gambar terbaikmu. bahkan aku rasa karyamu layak dipamerkan di museum.

kali ini kita belajar seni teater dan kita membentuk kelompok drama.
siswa di kelas mulai berhitung dari satu sampai delapan. kau mendapat angka 7.
sama pula dengan siswi yang melanjutkan dari angka terakhir siswa, 3.

4 – 5 – 6

tiga siswi sudah terlewatkan, sekarang giliranku mengucapkan
tujuh,”
dan sadar bahwa aku sekali lagi satu kelompok dengan kau.

benar,
meski aku tahu diri dan ingin segera menghilangkan kau dari hidupku, Tuhan tak pernah mengizinkan itu terjadi.
takdir sudah berkata, dan kita akan tetap bersama,
bagaimanapun caranya.

πŸ“†

6. jumat, 28 juli 2017.
awan pagi ini terlihat seragam, menunjukkan kelembutan layaknya bulu domba.
aku tidak pernah memerhatikan jalan raya secara detail sebelum hari ini datang.
semilir angin melewati celah antara aku dengan bapakku, mengelilingi sekujur tubuhku dan memeluknya.
lalu kau datang.

helm merah legendaris itu lewat.
helm yang kau ambil di kelas redup hari jumat minggu lalu,
ya, tentu saja aku ingat.
juga hoodie biru dongkermu yang kau pakai ketika shooting film denganku.
dimana kita pemeran utama; aku jurnalis dan kau kekasihku.
meski, kau memerani seorang pengedar narkoba kurang ajar.
ya, tentu saja aku ingat.

hanya sepersekian detik kami berdampingan. ingin ku menyapa tapi tak sempat.
ingin ku raih namun tak sampai.
ingin ku cintai, tak sanggup menahan kecemburuan.

bola basket.

benda yang tak asing bagimu tapi membingungkan untukku.
kau mahir bermain basket, terlihat dari jarimu yang lentik dan hand-eye coordination yang mantap.

sebentar lagi kau akan tanding.

kau menunggu di depan pintu, menghalangi.
aku ingin masuk. tolonglah, pergi.

tidak.
kau tak akan pergi.
meski aku menyuruh, kau tetap di sana, mengusik setiap detikku.

dan di sepersekian detik itu, kita berdua bertabrakan, menyisakan rasa sakit yang tak begitu signifikan tetapi mampu mengacak perasaan.
setelah itu kau tidak kembali.
mengakhiri pertemuan kami di minggu singkat ini.

terima kasih dan sampai jumpa di minggu depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s